BELA NEGARA DAN PERAN SERTA WARGA NEGARA MEMBANGUN NEGERI

Letak geografis Indonesia yang strategis memiliki potensi ancaman yang semakin kompleks. Bentuk ancaman terhadap kedaulatan negara yang terjadi saat ini makin bersifat multidimensional seiring dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan komunikasi. Oleh karenanya, segenap bangsa Indonesia dituntut dapat mengatasi setiap ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan, baik yang datang dari dalam maupun luar negeri.

Terkait hal ini diperlukan sebuah pemahaman akan pentingnya kesadaran bela negara. Dan hal ini memerlukan peran serta aktif dari segenap bangsa Indonesia agar kita dapat menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kesadaran bela negara memiliki dasar hukum yang kuat, yaitu Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat 3, yang mengamatkan bahwa “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara” dan Pasal 30 ayat (1) mengamanatkan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usha pertahanan dan keamanan negara”

Untuk melaksanakan amanat UUD 1945 tersebut, dirasa perlu menjabarkannya ke dalam bentuk program atau kegiatan yang kongkrit kepada semua lapisan masyarakat. Kewajiban bela negara tidak hanya dilakukan oleh militer, tetapi bisa dilakukan oleh mereka yang bukan militer, utamanya untuk menghadapi ancaman non-militer seperti ancaman tanpa bersenjata yang mempunyai kemampuan membahayakan atau berimplikasi mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa.

Jelas bahwa bela negara itu penting untuk ditanamkan sebagai landasan sikap dan perilaku bangsa Indonesia. Sekaligus untuk membangun daya tangkal bangsa menghadapi kompleksitas dinamika ancaman guna mewujudkan ketahanan nasional. Bela negara juga menjadi modal sosial bangsa untuk membangun diri menjadi bangsa yang lebih maju, berkepribadian dan berbudaya, yang sejajar dengan negara maju lainnya dalam peradaban dunia.

Di masa yang akan datang diperlukan sebuah konsep dan program bela negara yang efektif, sehingga segenap warga negara dapat ikut serta dalam program-program yang dilaksanakan, baik oleh instansi pemerintah maupun komunitas bela negara.

Oleh karenanya, pendidikan bela negara menjadi sesuatu hal yang wajib. Hal ini sejalan dengan kenyataan empiris yang berkembang saat ini, yaitu jika dikaitkan dengan kondisi empiris Indonesia yang berada pada persimpangan kepentingan dunia. Realitas empiris inilah yang menjadi satu kebutuhan Indonesia untuk melakukan reorientasi sistem ketahanan nasional. Selain itu, adanya kepentingan masa depan, khususnya dikaitkan dengan potensi ancaman di masa yang akan datang.

Pembangunan karakter bangsa melalui pembinaan kesadaran dan kemampuan bela negara bagi setiap warga negara Indonesia menjadi hal yang sangat penting. Untuk itu perlu menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam kerangka pertahanan negara, serta penguatan jati diri bangsa yang berkepribadian dan berkebudayaan berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pembinaan kesadaran dan kemampuan bela negara setidaknya menyiapkan insan yang berwawasan kebangsaan, berkarakter serta memiliki integritas sehingga dapat berkontribusi bagi kemajuan serta keutuhan NKRI.

Penyiapan SDM yang handal tersebut tentu berdampak pada kualitas pola pikir dan tindakan yang positif didalam mengelola sumber daya nasional untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara. Sehingga dengan kesadaran membangun negara yang baik akan membangkitkan semangat kolektif mencapai kejayaan Indonesia.

Karena sudah saatnya nama Indonesia semakin harum dan martabatnya semakin tinggi, berprestasi kelas dunia di berbagai bidang, berperan serta dalam berbagai kegiatan mulia, serta berkolaborasi dengan bangsa lain dalam menciptakan keamanan dan kedamaian dunia.

Semangat kolektif dan sikap berinovasi perlu juga digencarkan agar tercipta temuan-temuan baru oleh putra-putri bangsa Indonesia. Sehingga negara lain akan menilai Indonesia sebagai bangsa yang memiliki daya saing. Mungkin ini adalah bagian dari aksi riil dari sebuah program bela negara.

Di bidang ketahanan pangan contohnya, program bela negara juga dapat dilakukan dengan cara yang masiv dan bersinambungan, diantaranya adalah dengan membina para petani di desa-desa untuk dapat bersaing dengan produk luar negeri. Para kader bela negara dapat melakukan pendampingan pemasaran kepada petani akan hasil produk-produk pertaniannya. Hal ini menjadi penting dilakukan, mengingat saat ini begitu sengitnya gempuran impor yang masuk ke negeri yang kita cintai ini.

Dalam konteks disiplin nasional, kiranya perlu membangun kembali sikap budaya disiplin. Mengingat semakin lunturnya sikap disiplin oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini perlu digaungkan kembali karena sikap disiplin menjadi syarat utama bagi bangsa yang ingin maju.

Disiplin nasional diartikan sebagai status mental bangsa yang tercemin dalam perbuatan berupa keputusan dan ketaatan. Baik secara sadar maupun melalui pembinaan terhadap norma-norma kehidupan yang berlaku.

Menurut hemat kami setidaknya ada delapan manfaat dari sikap disiplin, yakni: Menumbuhkan kepekaan, Menumbuhkan kepedulian, Mengajarkan keteraturan, Menumbuhkan ketenangan, Menumbuhkan percaya diri, Menumbuhkan kemandirian, Menumbuhkan keakraban dan Menumbuhkan kepatuhan.

Mensosialisasikan disiplin nasional secara masiv merupakan sebuah keniscayaan. Karena mensosialisasikan sikap disiplin menjadi sebuah ikhtiar kuat untuk mencapai Indonesia yang maju, berdaulat dan mandiri.

Rusman
Sekretaris Badan Penelitian Pengembangan DPP ABNRI