BELA NEGARA, PERLU PENDIDIKAN GEOPOLITIK SEJAK DINI

Saya teringat ketika Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu ketika itu menyoal gagasan dari bela negara. Ide pak menhan sesungguhnya bagus. Namun, mengapa pilihan Bela Negara tidak dalam bentuk pendidikan Geopolitik? Karena intinya bagaimana mengajak keterlibatan semua komponen masyarakat (bangsa) dalam usaha mempertahankan kedaulatan NKRI.

Namun satu hal yang perlu dicatat, tantangan gangguan kedaulatan ke depan bagi republik ini sesungguhnya tak sekadar “serangan-serangan” yang bersifat simetris (fisik dan militer) tetapi asimetris (non militer, cyber, maupun isu-isu terkait Demokrasi-Hak Asasi Manusia dan Lingkungan Hidup), dan sebagainya.

Sehingga apabila gagasan bela negara yang bersifat fisik ditransformasi ke arah pendidikan geopolitik yang akan diberikan sejak dini, tingkat taman kanak-kanak misalnya, pasti gagasan itu akan membuat bangsa-bangsa di dunia, setiidaknya di kawasan Asia Pasifik, akan merasa gentar dan cemas.

Karena bagi mereka, bela negara yang bersifat fisik sudah lebih dulu dilakukan. Sehingga bila itu baru sekarang kita lakukan apakah tidak disebut meniru? Dan tidak menjadi sesuatu yang ‘cetar membahana’ (meminjam istilah Syahrini…he…he…he).

Justru sebaliknya, bila gagasan yang kita usung adalah Pendidikan Geopolitik Sejak Dini. Mungkin mereka akan terkesiap. Dan tak mengira bahwa Indonesia memiliki gagasan yang lebih mencerdaskan ketimbang apa yang selama ini mereka lakukan. Karena pemahaman terhadap geopolitik bangsa yang mendalam akan menjadikan pembelaan negara sebagai sebuah panggilan. Sementara pendidikan bela negara yang bersifat fisik, apalagi yang dikhawatirkan bersifat militeristik, tanpa memperhatikan batasan pemahaman sebagai bangsa, justru akan melahirkan keterpaksaan bahkan “pembangkangan”. Mudah-mudahan tidak begitu.

Kusairi Muhammad, Konsultan Media