Workshop Bela Negara, Pekerja Media Tingkat Nasional

Workshop Pendidikan Peningkatan Kesadaran Bela Negara, menyertakan pekerja Media Tingkat Nasional dengan tema “Membangun Sumber Daya Manusia Dengan Disiplin Nasional” berlangsung seharian di Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala Yogyakarta, Rabu, 27 Maret 2019, diikuti 400 peserta dari beragam media di Tanah Air.

Dalam sambutan singkat melalui video call, Wakil Presiden Yusuf Kalla yang berhalangan hadir mengatakan, “Semoga melalui simposium nasional Bela Negara ini semakin menumbuhkan kesadaran kita dan kecintaan kita kepada bangsa dan negara untuk mencapai tujuan berkeadilan,” ucapnya singkat.

Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara saat memberi sambutan dengan latar belakang Pesawat Hercules C-130 Pertama Milik TNI AU, menuturkan kaitannya dengan pesatnya perkembangan dunia digital, “Perkembangan dunia digital saat ini luar biasa, selain teknologinya juga aplikasi-aplikasinya, di Indonesia infrastruktur digital nya masih belum merata, tertinggal dari negara-negara tetangga ASEAN. Hal itu dikarenakan banyaknya pulau-pulau di Indonesia, sehingga faktor kesulitannya sangat tinggi,” ungkap Menteri Rudiantara.

Menurut laporan yang masuk ke Kementerian Kominfo, infrastruktur digital di kota dan di desa terjadi kesenjangan, di perkotaan dengan teknologi 4G, kecepatan download bisa mencapai 7 MB per-detik atau dua halaman folio, sedangkan di pelosok Papua Barat, Papua dan Maluku, hanya sebesar 300 KB per-detiknya. “Ini tidak fair,” tegas Menkominfo.

Ada 214-ribu sekolah, 93-ribu nya, belum terhubung internet, yang sudah terhubung internet digunakan untuk Ujian Nasional Berbasis Komputer –UNBK, digunakan pada akhir proses belajar-mengajar, kita mau rubah, harus digunakan dalam proses belajar-mengajar. Kita harus menyiapkan anak-anak didik kita menjadi petarung, itu yang kita butuhkan untuk menjaga NKRI. Itu yang kita butuhkan agar Indonesia bisa berkompetitif di kancah internasional. Itu baru pendidikan,” ujar Menteri Rudiantara.

Belum lagi 20-ribu lebih Pesantren di Indonesia yang harus kita kondisikan terkoneksi dengan internet. Demikian halnya dengan Puskesmas yang banyak dan tersebar di seluruh penjuru Tanah Air, maka sejak dua tahun lalu Pemerintah telah menyiapkan Satelit Khusus berteknologi terbaru namanya High ThroughPut Satellite, Satelit Khusus untuk Internet berkecepatan tinggi, yang pada April 2019 sudah ditentukan pemenang tender perancangan, pembuatan, peluncuran hingga pengoperasian-nya dan di tahun 2022 sudah operasional. Sambil menantikan itu semua selesai, Pemerintah kini menyewa satelit untuk merealisasikan program-program jaringan di Bumi Pertiwi.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto SIP dalam sambutan yang dibacakan oleh Danlanud Adisutjipto Marsekal Pertama TNI Ir. Bob Hendri Panggabean menekankan kepada disiplin kerja. “Kualitas SDM berpengaruh positip dan signifikan terhadap kinerja anggota, hal ini membuktikan bahwa kualitas SDM yang baik memiliki perilaku baik, dapat berkomunikasi secara fleksibel, dan dapat berhubungan baik dengan anggota satu dengan yang lainnya maka akan memberikan pengaruh pada peningkatan kinerja anggota,” pesan Panglima TNI.

Sementara Kasatpol PP DIY, Drs. Nukiya Rohmat yang membacakan sambutan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan HB X, menyampaikan, secara non-fisik, Bela Negara dapat didefinisikan sebagai segala upaya untuk mempertahankan negara dengan cara meningkatkan rasa nasionalisme, yakni kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan terhadap Tanah Air, berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara. Keterkaitan dengan tema Disiplin Nasional menurut Sultan HB X, sangat erat berkaitan dengan ketaatan kepada aturan yang telah ditetapkan.

“Disiplin sebagai suatu norma yang berlaku secara umum, akan berkaitan erat dengan mental dan perilaku kehidupan sehari-hari. Karena dengan disiplin dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas termasuk dalam berproduksi,” ungkap Sultan yang menyambut baik digelarnya simposium nasional Bela Negara tersebut.

Kadispenau Ir. Novyan Samyoga, MM. selaku Ketua Panitia menjelaskan mengenai keberadaan Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala sebagai Pusat Edutainment Terbesar di kawasan Asia Tenggara, yang menjadi tempat dihelatnya simposium nasional Bela Negara tersebut.

“Muspusdirla sebagai museum kebanggaan TNI-AU, saat ini mengoleksi 60 pesawat berbagai tipe yang pernah dioperasikan oleh TNI-AU, seperti pesawat Hercules 1301 dan pesawat pembom kebanggaan RI yaitu TU-16, yang berperan dalam Pembebasan Irian Barat dari penjajah Belanda. Kemudian Museum koleksi mesin pesawat, dan Museum Kolek, Museum peralatan Komunikasi dan Elektronika. Agenda berikutnya berupa peresmian Museum Armament, koleksi persenjataan,” tuturnya.