Tanggapan Peserta II FGD: Masyarakat Adat Peran dan Masa Depannya

Bila mendengar pembahasan dari awal hingga akhir, saya melihat ada satu yang tidak muncul, meskipun secara implisit itu ada. Sesungguhnya roh pembahasan terkait masyarakat adat ini justeru pada kedaulatan. Bagaimana masyarakat adat itu berdaulat, ini (yang) harus dipertahankan. Dengan itu bisa dilihat bagaimana mengatur hak ulayatnya dan lain-lain.

Terkait mempertahankan kedaulatan masyarakat adat, setidaknya ada empat hal yang harus dilihat. Pertama adalah pilihan berdaulat. Dalam pengertian, dia mempunyai hak mengatur ekonominya, mempunyai hak mengatur wilayahnya, mempunyai hak mengatur politiknya. Itu ada dan memiliki kewenangan sendiri. Hal ini seperti yang disampaikan Pak Arifin tadi, sebagai raja tidak memiliki kewenangan. Tidak memiliki kedaualatan untuk mengatur masyarakat dan wilayah. Justeru orang lain yang mengatur, disitu ada investor, ada pemerintah daerah dan ada pemerintah pusat. Sehingga itu menjadi hal yang dituntut oleh masyarakat adat.

Kedua, kita melihat bahwa sebagian mereka adalah hidup bersumber dari sumber daya alam. Hutan, air dan sebagainya. Umumnya masyarakat adat itu sangat ramah terhadap lingkungan. Karena mereka mengatur tidak eksploitatif. Mereka mengambil sesuai dengan kebutuhannya. Ini perlu riset kembali.

Ketiga, konstituennya bisa dikategorikan solid. Karena mereka berasal dari leluhur yang sama, dari tempat yang sama. Bila ada ada yang melanggar dari luar, mereka komitmen menjalankan aturan-aturan itu.

Keempat, hubungan antara masyarakat dan negara. Masyarakat adalah yang memiliki batas-batas seperti yang diatur tadi. Fungsi negara adalah melindungi dengan cara membuat undang-undang. Kemudian negara berfungsi mengatur dan menadministrasikan sebagaimana yang dilakukan oleh Kemendagri, mengatur disini agar tidak terjadi konflik.

Terkait pendapat yang mengatakan masyarakat adat terkesan dimuseumkan, menurut saya adat ini memiliki dua fungsi. Pertama, adat bisa sebagai sosial kontrol terhadap hal-hal yang terjadi. Kedua, ini yang masih diusahakan bagaimana nilai-nilai lokal itu bisa menjadi motivator dan menjadi pengembang bagi kemajuan.

Dua fungsi ini kedepan perlu dikembangkan. Namun sebagai motivator agak berbeda. Nampaknya ada pertempuran yang luar biasa, kalau dalam persektif perwayangan di Jawa, sudah masuk goro-goro. Di situ ada pertempuran Bratayudha antara mimpinya pak Hans dengan Jhon Naisbiit. Pertempuran ini mesti dihilangkan.

Mudarit, Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES)

* Focus Group Discussion (FGD) bertajuk: “Masyarakat Adat Peran dan Masa Depannya“, Rabu, 27 Februari 2019 bertempat di Wisma Daria, Lt. 2 Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta SelatanĀ